<div style='background-color: none transparent;'></div>

Label 2

Home » » Jakarta, Februari 2002

Jakarta, Februari 2002

Jakarta, Februari 2002


“Jadi Mas sekarang ada di mana?”
“Apa bedanya Rud. Manusia, malaikat, iblis… kita bisa jadi apa saja.”

Rudi, seorang penulis lepas, wartawan freelance, mahasiswa ilmu komunikasi dan jurnalistik - setelah tiga tahun, ini pertemuan kedua kali dengan orang yang dianggapnya panutan semasa dia masih berseragam sekolah.

“Di Semarang Mas jadi legenda.”
“Legenda? Maksudnya?”
“Ya… kabur dari penjara, kebal peluru, bisa menghilang… mereka tak tahu kejadian sebenarnya.”
“Kalaupun tahu, mereka tak kan percaya.”
“Tapi saya percaya.”
“Kenapa?”
“Ya… saya percaya sama Mas.”
“Kamu anak yang baik Rud… dari dulu aku melihat kamu seperti itu.”

Etan, orang yang diwawancarai Rudi, sosok yang sudah dianggap hilang dari pencarian – setelah hampir setahun mencari, akhirnya Rudi menemukannya di ceruk-ceruk Jakarta.

“Orang yang membawa Mas kabur dari penjara, seperti apa dia?”
“Dia wanita biasa. Aku sudah menganggapnya ibuku sendiri.”
“Dia punya ilmu?”
“Dia cuma segelintir wanita yang punya sedikit keistimewaan. Apapun yang terjadi, di mataku, dia seorang malaikat.”

Rudi mengeluarkan foto ukuran post card dari buku catatannya. Dia sodorkan ke lawan bicaranya. Sebuah foto hasil forensik. Seonggok mayat telentang di atas alas logam. Badannya penuh tato. Bagian kepalanya hanya tinggal serpihan-serpihan daging. Hanya reaksi dingin tersirat di wajah Etan melihat gambar itu.
“Maafkan aku Rud. Aku telah bunuh kakakmu.”
“Dia pantas mati seperti itu Mas.”
“Semua terjadi di luar dugaanku.”
“Bagaimana Mas melakukannya?”
     “Aku tak tahu Rud… keluar begitu saja, terutama saat kita emosi. Aku sedang belajar mengontrolnya.”
“Apakah mereka semua punya kekuatan seperti Mas?”
“Ya…”
“Seperti apa mereka?”
Etan merogoh dompetnya. Mengambil lembaran yang terlipat di antara isinya. Disodorkannya ke Rudi. Selembar foto yang lipatan di tengahnya sudah berserabut. Gambar empat orang sebatas dada, dua orang di sebelah kiri lipatan, dua orang lagi di sebelah kanan. Empat orang itu tersenyum menatap lensa, seseorang di tengah memakai baju wisuda. Paling kiri, orang yang dikenal Rudi, yang kini ada di depannya. Tapi di foto itu dia seperti melihat sosok yang berbeda dari yang bisa dia bayangkan. Di sebelahnya seorang perempuan memakai baju wisuda. Topi toganya tidak dipakai. Rambutnya lurus sepundak dibiarkan tergerai, tidak digelung seperti biasanya wanita diwisuda, tersenyum lepas memperlihatkan deretan gigi depannya. Bola matanya berbinar cerah seperti zamrud yang berkilau di bawah alisnya yang bergaris tajam. Persis di sebelah kanan lipatan, perempuan berambut lurus sampai ke punggung. Sebagian jatuh ke depan, beberapa menutup garis pipinya. Senyumnya lebar tersimpul. Rona wajahnya lembut, selembut sorot matanya. Di pinggir paling kanan, laki-laki berambut ikal, belakangnya hampir sepundak. Sisirannya basah ke belakang. Kumisnya tipis rata di atas bibirnya. Jampangnya pendek hanya di bagian dagu. Tersenyum lebar tapi pandangannya tetap datar.

Tombol tape recorder berbunyi di atas meja. Kaset di dalamnya berhenti berputar. Rudi membalik kaset tape recordernya, menyalakan tombol recordnya lalu mengamati lagi foto yang ada di tangannya.
“Mereka kelihatan seumuran Mas.”
“Umur kami sama. Bahkan sama persis. Kami dilahirkan di hari dan jam yang sama. Mungkin di menit yang sama.”
“Bagaimana perasaan kalian setelah tahu kalian berbeda?”
“Perasaan kami… nggak tahu ya Rud. Semua orang juga berbeda.”
“Siapa nama mereka?”

Etan mengambil foto di tangan Rudi. Melipatnya, memasukkan ke dompetnya lagi. Tampaknya tidak akan banyak informasi yang didapatkan Rudi.

“Kekuatan mereka juga ada di tangan?”
“Ya, ada yang sejak kecil sudah keluar sedikit-sedikit. Biasanya tangan mereka sering terasa pegal, kadang tremor. Ada juga yang tiba-tiba muncul begitu saja. Seperti aku. Dan itu yang berbahaya. Kamu tahu sendiri akibatnya.”
“Suatu saat saya akan menulis tentang kalian.”
“Bagus itu Rud. Tidak banyak orang dari lingkungan kita dapat melakukan sesuatu seperti kamu.”
“Adakah istilah untuk menyebut orang-orang seperti kalian?... atau… kalian menamakan diri kalian apa?”
“Apa ya?... Aku nggak tahu Rud.”
“Bagaimana kalau the Hands?... Etan the Hands… bagus kan? Kaya Billy the Kids.”
“Ada-ada saja kamu Rud.”

Langit sudah tercoreng merah. Gelap mulai merambati ceruk-ceruk di antara gedung-gedung tinggi. Di salah satu ceruk yang becek dan bertaburan sampah, sebuah warung makan reot sudah mulai menyala sinar kuningnya. Rudi dan Etan keluar dari warung itu. Mereka saling melambaikan tangan, untuk entah kapan bertemu lagi. Masing-masing sudah tenggelam di hiruk bisingnya mesin-mesin jalan, di suatu tempat yang tak akan pernah tidur.
Share this article :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2011. yahohoo . All Rights Reserved
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Template Modify by Creating Website. Inpire by Darkmatter Rockettheme Proudly powered by Blogger