Sumedang, Juli 1998
Mayat-mayat itu bergelimpangan di depanku. Waktu seakan berhenti. Hanya ujung rerumputan yang bergerak-gerak terkena angin, menyembunyikan sebagian tubuh-tubuh yang sudah tak bergerak itu. Ada 5 atau 6 orang aku tak ingat. Yang kulihat jelas cuma yang ada di dekatku. Ya, itu Teh Minah. Suaminya sering menggodaku setelah aku jadi janda. Matanya melotot, jari-jarinya melepuh. Sama seperti yang lain. Tangannya gosong kehitaman. Mereka telah menamparku, meludahiku, memotong rambutku, merobek-robek bajuku. Aku tak ingat sudah berapa lama aku harus menutupi bagian dadaku.
Aku telah bunuh mereka semua. Seperti aku telah bunuh suamiku setahun yang lalu. Dia mulai sering mabuk, marah tak jelas dengan alasan cemburu. Sering dia tidak menganggapku, sepertinya aku ini seorang pembantu atau aku hanya sebongkah tubuh pemuas nafsu. Saat itu aku marah, marah sekali! Marahku sudah tak terbendung, walau selama ini selalu kusimpan, karena kebaikan keluarganya pada keluargaku yang mungkin tak bisa kubalas. Menanggung beaya perawatan bapak dan ibuku, juga menyekolahkan adik-adikku. Setelah lulus SMA aku harus menikah dan mengubur dalam-dalam semua impianku. Hingga sampai saat itu aku tak tahan lagi, dia mulai menampar dan memukul, tetapi aku lawan, untuk kesekian kalinya kutahan tangannya yang mengarah ke wajahku. Dalam kondisi mabuk dia mulai berontak dan kata-kata kasar keluar dari mulutnya. Aku semakin kuat menahan tangannya. Dan kata-kata itu aku sudah tak tahan lagi. Aku berusaha untuk menahan marahku. Tapi aku tak bisa. Sampai kulihat dia mulai mengejang, matanya melotot mau keluar. Seluruh tubuhnya mengejang, biji matanya sudah tak terlihat. Waktu kulepas, tubuhnya jatuh ke lantai seperti onggokan kayu. Tangannya hitam melepuh.
Aku hanya berdiri menatapnya, tak tahu apa yang terjadi. Seperti ketika aku berumur 5 tahun, Ibu bilang pembantuku mati terkena sengatan listrik. Waktu itu kutarik rambutnya karena aku tak mau makan makanan yang dia suapkan. Tiba-tiba dia mengejang kemudian terbujur kaku. Aku tahu ibu tidak akan menjelaskan apa yang terjadi meskipun dia melihat kejadiannya.
Aku baru tersadar ketika kakak iparku menggoyang-goyangkan pundakku. “Apa yang terjadi! Kamu apakan dia Joli?” Aku hanya bisa diam, masih memandang suamiku yang terbujur kaku. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Dan aku tidak merasa mengapa-apakan dia.
Matahari mulai tinggi, bayangan pohon di belakangku mulai menyempit. Aku masih duduk tersimpuh setengah telungkup, mencari-cari sisa bajuku, tapi yang kutemukan cuma ceceran potongan rambutku. Di sini, di bawah pohon ini, tempatku bermain waktu kecil. Tempat aku berlari-lari, menidurkan bonekaku. Hanya aku dan pohon ini. Tempat aku berkhayal menjadi seorang superstar. Tapi di sini pulalah aku diseret seperti anjing.
Pagi tadi aku diantar Pierre sampai depan rumahku. Dia akan jadi produserku. Orang keturunan Perancis. Sudah tiga hari aku berada di Jakarta untuk menyiapkan materi. Dan untuk kesekian kali Pierre mengantarku ke Sumedang dengan mobilnya. Terakhir kali kulihat dia terpontang-panting lari ketakutan ketika mobilnya mulai dirusak penduduk. Ya penduduk tempat ini, tetangga-tetanggaku sendiri.
Setelah suamiku meninggal, banyak laki-laki yang mendekatiku. Kang Jaja selalu nongkrong di depan rumahku. Pak Ndang, bekas kepala sekolahku sering memberiku baju, perhiasan dan dia pernah menawariku motor. Haji Sukarna pernah menawariku rumah mewah di alun-alun kalau aku mau jadi istri keduanya. Dan aku mulai banyak teman dari Jakarta. Mereka sering berlibur dan menginap di rumahku, nggak laki-laki nggak perempuan, kebanyakan laki-laki. Aku sering ke Jakarta sejak ikut kontes pencarian bintang.
Mungkin tempatku bukan di sini. Mereka mulai gerah dengan keberadaanku. Ibu-ibu yang suami-suaminya selalu melotot kalau aku lewat di depan mereka. Ada yang masih sopan, ada yang sudah kelewatan. Atau laki-laki yang merasa sakit hati karena merasa aku abaikan. Terakhir mereka bilang aku piaraan bule.
Hingga hari ini, di bawah pohon ini, mereka memperlakukan aku lebih rendah dari seorang pelacur. Mereka marah sekaligus takut. Takut kutukan akan menimpa tempat ini karenaku.
Akhirnya semuanya sudah tak terkendali lagi. Aku berontak dan orang-orang mulai memegangiku. Hingga kejadian itu terulang lagi. Seperti yang sudah-sudah, aku hanya bisa ternganga. Suasana jadi hening, walau bau daging terpanggang menusuk hidung.
Beberapa saat kemudian suasana lambat laun bertambah ricuh. Sempat terdengar suara kakak iparku. Ya aku hafal betul suaranya, “Dia juga yang bunuh adikku, aku melihatnya, dengan mata kepalaku sendiri, kalian sekarang percaya kan!” Kemudian banyak orang berteriak-teriak. Ada kata-kata tukang tenung dan wanita iblis diantara kata-kata pelacur dan wanita murahan. Aku tidak tahu berapa banyak orang yang mengerubutiku dan siapa saja mereka. Karena mataku sudah susah dibuka. Ada darah mengalir dari dahiku, menutupi mataku. Dan pandanganku menjadi merah. Ada orang yang sempat memukulkan sesuatu di kepalaku.
Aku teringat bapak ibuku. Mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa. Bapakku sakit kanker darah, ibuku menderita gagal ginjal dan adikku masih kecil-kecil. Kepalaku mulai pusing, kesadaranku mulai berkurang. Sampai aku sadar kalau badanku sudah basah dan bau bensin. Mereka akan membakarku hidup-hidup.
Di bukit ini, di bawah pohon ini aku tumbuh, dan di tempat ini pulalah tubuhku akan dihanguskan. Beginikah akhir dari hidupku? Gemetar tanganku sudah tak kurasakan lagi. Aku tak tahu apakah aku masih bisa menangis atau sudah tak sadarkan diri. Karena aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Kulihat cahaya-cahaya api mulai menyala di tangan orang-orang itu. Bayang-bayang mereka mulai mendekat. Tapi ada satu bayangan putih di antara mereka. Bergerak cepat seperti cahaya. Apakah malaikat telah siap menjemputku? Api mulai membesar di sekelilingku, tetapi tidak menyentuhku. Semakin membesar dan membesar hingga bayangan orang-orang yang mengelilingiku sudah tidak terlihat lagi. Pandanganku pun mulai memutih. Kesadaranku mulai menghilang. Apakah aku sudah mati?
Mayat-mayat itu bergelimpangan di depanku. Waktu seakan berhenti. Hanya ujung rerumputan yang bergerak-gerak terkena angin, menyembunyikan sebagian tubuh-tubuh yang sudah tak bergerak itu. Ada 5 atau 6 orang aku tak ingat. Yang kulihat jelas cuma yang ada di dekatku. Ya, itu Teh Minah. Suaminya sering menggodaku setelah aku jadi janda. Matanya melotot, jari-jarinya melepuh. Sama seperti yang lain. Tangannya gosong kehitaman. Mereka telah menamparku, meludahiku, memotong rambutku, merobek-robek bajuku. Aku tak ingat sudah berapa lama aku harus menutupi bagian dadaku.
Aku telah bunuh mereka semua. Seperti aku telah bunuh suamiku setahun yang lalu. Dia mulai sering mabuk, marah tak jelas dengan alasan cemburu. Sering dia tidak menganggapku, sepertinya aku ini seorang pembantu atau aku hanya sebongkah tubuh pemuas nafsu. Saat itu aku marah, marah sekali! Marahku sudah tak terbendung, walau selama ini selalu kusimpan, karena kebaikan keluarganya pada keluargaku yang mungkin tak bisa kubalas. Menanggung beaya perawatan bapak dan ibuku, juga menyekolahkan adik-adikku. Setelah lulus SMA aku harus menikah dan mengubur dalam-dalam semua impianku. Hingga sampai saat itu aku tak tahan lagi, dia mulai menampar dan memukul, tetapi aku lawan, untuk kesekian kalinya kutahan tangannya yang mengarah ke wajahku. Dalam kondisi mabuk dia mulai berontak dan kata-kata kasar keluar dari mulutnya. Aku semakin kuat menahan tangannya. Dan kata-kata itu aku sudah tak tahan lagi. Aku berusaha untuk menahan marahku. Tapi aku tak bisa. Sampai kulihat dia mulai mengejang, matanya melotot mau keluar. Seluruh tubuhnya mengejang, biji matanya sudah tak terlihat. Waktu kulepas, tubuhnya jatuh ke lantai seperti onggokan kayu. Tangannya hitam melepuh.
Aku hanya berdiri menatapnya, tak tahu apa yang terjadi. Seperti ketika aku berumur 5 tahun, Ibu bilang pembantuku mati terkena sengatan listrik. Waktu itu kutarik rambutnya karena aku tak mau makan makanan yang dia suapkan. Tiba-tiba dia mengejang kemudian terbujur kaku. Aku tahu ibu tidak akan menjelaskan apa yang terjadi meskipun dia melihat kejadiannya.
Aku baru tersadar ketika kakak iparku menggoyang-goyangkan pundakku. “Apa yang terjadi! Kamu apakan dia Joli?” Aku hanya bisa diam, masih memandang suamiku yang terbujur kaku. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Dan aku tidak merasa mengapa-apakan dia.
Matahari mulai tinggi, bayangan pohon di belakangku mulai menyempit. Aku masih duduk tersimpuh setengah telungkup, mencari-cari sisa bajuku, tapi yang kutemukan cuma ceceran potongan rambutku. Di sini, di bawah pohon ini, tempatku bermain waktu kecil. Tempat aku berlari-lari, menidurkan bonekaku. Hanya aku dan pohon ini. Tempat aku berkhayal menjadi seorang superstar. Tapi di sini pulalah aku diseret seperti anjing.
Pagi tadi aku diantar Pierre sampai depan rumahku. Dia akan jadi produserku. Orang keturunan Perancis. Sudah tiga hari aku berada di Jakarta untuk menyiapkan materi. Dan untuk kesekian kali Pierre mengantarku ke Sumedang dengan mobilnya. Terakhir kali kulihat dia terpontang-panting lari ketakutan ketika mobilnya mulai dirusak penduduk. Ya penduduk tempat ini, tetangga-tetanggaku sendiri.
Setelah suamiku meninggal, banyak laki-laki yang mendekatiku. Kang Jaja selalu nongkrong di depan rumahku. Pak Ndang, bekas kepala sekolahku sering memberiku baju, perhiasan dan dia pernah menawariku motor. Haji Sukarna pernah menawariku rumah mewah di alun-alun kalau aku mau jadi istri keduanya. Dan aku mulai banyak teman dari Jakarta. Mereka sering berlibur dan menginap di rumahku, nggak laki-laki nggak perempuan, kebanyakan laki-laki. Aku sering ke Jakarta sejak ikut kontes pencarian bintang.
Mungkin tempatku bukan di sini. Mereka mulai gerah dengan keberadaanku. Ibu-ibu yang suami-suaminya selalu melotot kalau aku lewat di depan mereka. Ada yang masih sopan, ada yang sudah kelewatan. Atau laki-laki yang merasa sakit hati karena merasa aku abaikan. Terakhir mereka bilang aku piaraan bule.
Hingga hari ini, di bawah pohon ini, mereka memperlakukan aku lebih rendah dari seorang pelacur. Mereka marah sekaligus takut. Takut kutukan akan menimpa tempat ini karenaku.
Akhirnya semuanya sudah tak terkendali lagi. Aku berontak dan orang-orang mulai memegangiku. Hingga kejadian itu terulang lagi. Seperti yang sudah-sudah, aku hanya bisa ternganga. Suasana jadi hening, walau bau daging terpanggang menusuk hidung.
Beberapa saat kemudian suasana lambat laun bertambah ricuh. Sempat terdengar suara kakak iparku. Ya aku hafal betul suaranya, “Dia juga yang bunuh adikku, aku melihatnya, dengan mata kepalaku sendiri, kalian sekarang percaya kan!” Kemudian banyak orang berteriak-teriak. Ada kata-kata tukang tenung dan wanita iblis diantara kata-kata pelacur dan wanita murahan. Aku tidak tahu berapa banyak orang yang mengerubutiku dan siapa saja mereka. Karena mataku sudah susah dibuka. Ada darah mengalir dari dahiku, menutupi mataku. Dan pandanganku menjadi merah. Ada orang yang sempat memukulkan sesuatu di kepalaku.
Aku teringat bapak ibuku. Mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa. Bapakku sakit kanker darah, ibuku menderita gagal ginjal dan adikku masih kecil-kecil. Kepalaku mulai pusing, kesadaranku mulai berkurang. Sampai aku sadar kalau badanku sudah basah dan bau bensin. Mereka akan membakarku hidup-hidup.
Di bukit ini, di bawah pohon ini aku tumbuh, dan di tempat ini pulalah tubuhku akan dihanguskan. Beginikah akhir dari hidupku? Gemetar tanganku sudah tak kurasakan lagi. Aku tak tahu apakah aku masih bisa menangis atau sudah tak sadarkan diri. Karena aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Kulihat cahaya-cahaya api mulai menyala di tangan orang-orang itu. Bayang-bayang mereka mulai mendekat. Tapi ada satu bayangan putih di antara mereka. Bergerak cepat seperti cahaya. Apakah malaikat telah siap menjemputku? Api mulai membesar di sekelilingku, tetapi tidak menyentuhku. Semakin membesar dan membesar hingga bayangan orang-orang yang mengelilingiku sudah tidak terlihat lagi. Pandanganku pun mulai memutih. Kesadaranku mulai menghilang. Apakah aku sudah mati?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar