Sabtu, 20 Juli 2013
Semarang, Agustus 1996
Aku sudah berdiri dengan kuda-kuda terpasang. Kami sudah saling berhadapan. Di bawah terik matahari, di pelataran parkir Balai Kota, belasan anak berseragam SMA saling berhadap-hadapan. Tangan-tangan sudah terkepal, ada yang sedikit digerak-gerakkan. Hari ini adalah hari perhitungan anak-anak kelas 3 dengan anak-anak kelas 2.
Aku berdiri disini untuk solidaritas anak-anak kelas 3. Masalahnya sepele, kadang kalau dirunut juga tidak ketahuan juntrungannya. Tetapi bagiku ini lebih pada masalah perlawanan terhadap fenomena borjuisme di sekolahku. Santos adalah leader anak-anak kelas 2. Anak seorang pemilik perusahaan makanan terbesar di Jawa Tengah dan anggota DPRD. Santos dan kawan-kawannya bagiku adalah gambaran kaum borjuis. Setelah angkatanku, sekolah memberikan kesempatan untuk murid-murid yang masuk lewat jalan belakang sebagai sarana penggalangan dana untuk pembanguan gedung baru. Satu hal yang membuatku bersemangat adalah karena aku belum pernah terlibat baku hantam yang sesungguhnya. Di ekstrakurikuler Karate semua cuma latihan, di sini tempat ujian sebenarnya.
Sekejap situasi jadi kacau. Orang-orang sudah saling bertumbukan. Bunyi kepalan mendarat di kepala dan orang menahan erangan sudah bermunculan. Aku berada di tengah-tengah mereka. Belum ada yang memukulku. Kuda-kudaku masih kokoh di tanah. Kulirik sebelahku, temanku Wicak sedang memukuli anak kelas 2 yang sudah terkapar dan menutupi kepalanya. Tapi belum ada yang memukulku juga. Kepalanku semakin kueratkan berharap ada yang memukulku duluan. Tiba-tiba terdengar suara sirine, satu mobil polisi muncul dari gerbang Balai Kota. Dan baru kusadari orang-orang sudah lari berhamburan. Ada yang melompat pagar depan, ada yang lari ke belakang gedung Balai Kota.
Aku berlari sendirian setelah melompat pagar samping. Harusnya aku langsung kabur begitu dengar sirine walau belum sempat memukul siapapun. Dan memang betapa bodohnya aku, sekarang yang ada di depanku adalah sebuah gang buntu. Aku berbalik ke belakang, tak mungkin balik keluar gang ini karena suara sirine semakin dekat dan tidak hanya satu, mungkin dua atau tiga. Di sampingku tembok setinggi 2,5 m dengan kawat berduri di atasnya. Tidak ada jalan lain lagi, aku harus melewatinya. Entah ada kekuatan dari mana, sekali lompat aku sudah menggapai bagian atas tembok. Kadang dalam keadaan terdesak kekuatan ekstra selalu muncul. Aku sempat berpikir kalau hal ini tak akan bisa kulakukan dalam situasi normal. Sekarang tinggal melewati kawat berduri. Tapi sial, bagian tasku ada yang menyangkut di jeruji kawat. Aku kehilangan keseimbangan, jatuh ke balik pagar.
Pergelangan kakiku terasa sakit, walau sudah kusiapkan gaya yang pas untuk mendarat. Baru beberapa saat aku memegangi kakiku, terdengar suara-suara perempuan menjerit. Ya ampun, aku baru sadar kalau aku sekarang berada di halaman sekolah perawat. Ya, muridnya perempuan semua, memakai seragam putih-putih, dan mereka sekarang sedang memandangiku, seperti melihat alien mendarat di bumi.
“Dasar cowok, selalu merasa sok jagoan. Apa sih untungnya tawuran!” dengan suara lantang salah satu dari mereka sudah ada di depanku. Kupikir matanya melotot, tapi ternyata pandangannya tetap dingin. Aku tidak bisa berkata apa-apa, karena aku masih meringis menahan sakit. Lagi pula aku tidak setuju dengan kata-kata tawuran.
Aku merasa ada yang terasa perih di bagian lenganku. Ada darah mengalir di situ, mungkin terkena jeruji kawat waktu aku jatuh. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Perempuan-perempuan tadi sudah pergi. Kini masalahnya bagaimana aku bisa keluar dari tempat ini dalam keadaan senormal mungkin.
Belum sempat terpikir, tiba-tiba perempuan tadi mendatangiku dengan membawa kotak P3K. Dia tarik lenganku, membersihkan lukanya dengan kapas dan meneteskan cairan betadine. Aku sempat melihat wajahnya, pandangannya tetap serius sambil membelitkan perban. Alis matanya tebal dan rambutnya yang panjang menutup sebagian pipinya. Dia mulai mengangkat-angkat lenganku mengencangkan perban, sepertinya aku ini sepeda rusak. Kudengar teman-temannya sudah memanggilnya dari jauh.
“Kalau keluar lewat pintu belakang, habis kantin terus belok kiri, di depan masih banyak polisi,” katanya sambil memasukkan kembali peralatan P3K.
Aku melihat kantin di belakangku. Inilah yang aku harapkan, masalahku sudah teratasi sekarang. Dan dia sudah menghilang. Aku belum sempat mengucapkan terima kasih.
Semarang, Agustus 1996
Aku sudah berdiri dengan kuda-kuda terpasang. Kami sudah saling berhadapan. Di bawah terik matahari, di pelataran parkir Balai Kota, belasan anak berseragam SMA saling berhadap-hadapan. Tangan-tangan sudah terkepal, ada yang sedikit digerak-gerakkan. Hari ini adalah hari perhitungan anak-anak kelas 3 dengan anak-anak kelas 2.
Aku berdiri disini untuk solidaritas anak-anak kelas 3. Masalahnya sepele, kadang kalau dirunut juga tidak ketahuan juntrungannya. Tetapi bagiku ini lebih pada masalah perlawanan terhadap fenomena borjuisme di sekolahku. Santos adalah leader anak-anak kelas 2. Anak seorang pemilik perusahaan makanan terbesar di Jawa Tengah dan anggota DPRD. Santos dan kawan-kawannya bagiku adalah gambaran kaum borjuis. Setelah angkatanku, sekolah memberikan kesempatan untuk murid-murid yang masuk lewat jalan belakang sebagai sarana penggalangan dana untuk pembanguan gedung baru. Satu hal yang membuatku bersemangat adalah karena aku belum pernah terlibat baku hantam yang sesungguhnya. Di ekstrakurikuler Karate semua cuma latihan, di sini tempat ujian sebenarnya.
Sekejap situasi jadi kacau. Orang-orang sudah saling bertumbukan. Bunyi kepalan mendarat di kepala dan orang menahan erangan sudah bermunculan. Aku berada di tengah-tengah mereka. Belum ada yang memukulku. Kuda-kudaku masih kokoh di tanah. Kulirik sebelahku, temanku Wicak sedang memukuli anak kelas 2 yang sudah terkapar dan menutupi kepalanya. Tapi belum ada yang memukulku juga. Kepalanku semakin kueratkan berharap ada yang memukulku duluan. Tiba-tiba terdengar suara sirine, satu mobil polisi muncul dari gerbang Balai Kota. Dan baru kusadari orang-orang sudah lari berhamburan. Ada yang melompat pagar depan, ada yang lari ke belakang gedung Balai Kota.
Aku berlari sendirian setelah melompat pagar samping. Harusnya aku langsung kabur begitu dengar sirine walau belum sempat memukul siapapun. Dan memang betapa bodohnya aku, sekarang yang ada di depanku adalah sebuah gang buntu. Aku berbalik ke belakang, tak mungkin balik keluar gang ini karena suara sirine semakin dekat dan tidak hanya satu, mungkin dua atau tiga. Di sampingku tembok setinggi 2,5 m dengan kawat berduri di atasnya. Tidak ada jalan lain lagi, aku harus melewatinya. Entah ada kekuatan dari mana, sekali lompat aku sudah menggapai bagian atas tembok. Kadang dalam keadaan terdesak kekuatan ekstra selalu muncul. Aku sempat berpikir kalau hal ini tak akan bisa kulakukan dalam situasi normal. Sekarang tinggal melewati kawat berduri. Tapi sial, bagian tasku ada yang menyangkut di jeruji kawat. Aku kehilangan keseimbangan, jatuh ke balik pagar.
Pergelangan kakiku terasa sakit, walau sudah kusiapkan gaya yang pas untuk mendarat. Baru beberapa saat aku memegangi kakiku, terdengar suara-suara perempuan menjerit. Ya ampun, aku baru sadar kalau aku sekarang berada di halaman sekolah perawat. Ya, muridnya perempuan semua, memakai seragam putih-putih, dan mereka sekarang sedang memandangiku, seperti melihat alien mendarat di bumi.
“Dasar cowok, selalu merasa sok jagoan. Apa sih untungnya tawuran!” dengan suara lantang salah satu dari mereka sudah ada di depanku. Kupikir matanya melotot, tapi ternyata pandangannya tetap dingin. Aku tidak bisa berkata apa-apa, karena aku masih meringis menahan sakit. Lagi pula aku tidak setuju dengan kata-kata tawuran.
Aku merasa ada yang terasa perih di bagian lenganku. Ada darah mengalir di situ, mungkin terkena jeruji kawat waktu aku jatuh. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Perempuan-perempuan tadi sudah pergi. Kini masalahnya bagaimana aku bisa keluar dari tempat ini dalam keadaan senormal mungkin.
Belum sempat terpikir, tiba-tiba perempuan tadi mendatangiku dengan membawa kotak P3K. Dia tarik lenganku, membersihkan lukanya dengan kapas dan meneteskan cairan betadine. Aku sempat melihat wajahnya, pandangannya tetap serius sambil membelitkan perban. Alis matanya tebal dan rambutnya yang panjang menutup sebagian pipinya. Dia mulai mengangkat-angkat lenganku mengencangkan perban, sepertinya aku ini sepeda rusak. Kudengar teman-temannya sudah memanggilnya dari jauh.
“Kalau keluar lewat pintu belakang, habis kantin terus belok kiri, di depan masih banyak polisi,” katanya sambil memasukkan kembali peralatan P3K.
Aku melihat kantin di belakangku. Inilah yang aku harapkan, masalahku sudah teratasi sekarang. Dan dia sudah menghilang. Aku belum sempat mengucapkan terima kasih.
Aku sudah berdiri dengan kuda-kuda terpasang. Kami sudah saling berhadapan. Di bawah terik matahari, di pelataran parkir Balai Kota, belasan anak berseragam SMA saling berhadap-hadapan. Tangan-tangan sudah terkepal, ada yang sedikit digerak-gerakkan. Hari ini adalah hari perhitungan anak-anak kelas 3 dengan anak-anak kelas 2.
Aku berdiri disini untuk solidaritas anak-anak kelas 3. Masalahnya sepele, kadang kalau dirunut juga tidak ketahuan juntrungannya. Tetapi bagiku ini lebih pada masalah perlawanan terhadap fenomena borjuisme di sekolahku. Santos adalah leader anak-anak kelas 2. Anak seorang pemilik perusahaan makanan terbesar di Jawa Tengah dan anggota DPRD. Santos dan kawan-kawannya bagiku adalah gambaran kaum borjuis. Setelah angkatanku, sekolah memberikan kesempatan untuk murid-murid yang masuk lewat jalan belakang sebagai sarana penggalangan dana untuk pembanguan gedung baru. Satu hal yang membuatku bersemangat adalah karena aku belum pernah terlibat baku hantam yang sesungguhnya. Di ekstrakurikuler Karate semua cuma latihan, di sini tempat ujian sebenarnya.
Sekejap situasi jadi kacau. Orang-orang sudah saling bertumbukan. Bunyi kepalan mendarat di kepala dan orang menahan erangan sudah bermunculan. Aku berada di tengah-tengah mereka. Belum ada yang memukulku. Kuda-kudaku masih kokoh di tanah. Kulirik sebelahku, temanku Wicak sedang memukuli anak kelas 2 yang sudah terkapar dan menutupi kepalanya. Tapi belum ada yang memukulku juga. Kepalanku semakin kueratkan berharap ada yang memukulku duluan. Tiba-tiba terdengar suara sirine, satu mobil polisi muncul dari gerbang Balai Kota. Dan baru kusadari orang-orang sudah lari berhamburan. Ada yang melompat pagar depan, ada yang lari ke belakang gedung Balai Kota.
Aku berlari sendirian setelah melompat pagar samping. Harusnya aku langsung kabur begitu dengar sirine walau belum sempat memukul siapapun. Dan memang betapa bodohnya aku, sekarang yang ada di depanku adalah sebuah gang buntu. Aku berbalik ke belakang, tak mungkin balik keluar gang ini karena suara sirine semakin dekat dan tidak hanya satu, mungkin dua atau tiga. Di sampingku tembok setinggi 2,5 m dengan kawat berduri di atasnya. Tidak ada jalan lain lagi, aku harus melewatinya. Entah ada kekuatan dari mana, sekali lompat aku sudah menggapai bagian atas tembok. Kadang dalam keadaan terdesak kekuatan ekstra selalu muncul. Aku sempat berpikir kalau hal ini tak akan bisa kulakukan dalam situasi normal. Sekarang tinggal melewati kawat berduri. Tapi sial, bagian tasku ada yang menyangkut di jeruji kawat. Aku kehilangan keseimbangan, jatuh ke balik pagar.
Pergelangan kakiku terasa sakit, walau sudah kusiapkan gaya yang pas untuk mendarat. Baru beberapa saat aku memegangi kakiku, terdengar suara-suara perempuan menjerit. Ya ampun, aku baru sadar kalau aku sekarang berada di halaman sekolah perawat. Ya, muridnya perempuan semua, memakai seragam putih-putih, dan mereka sekarang sedang memandangiku, seperti melihat alien mendarat di bumi.
“Dasar cowok, selalu merasa sok jagoan. Apa sih untungnya tawuran!” dengan suara lantang salah satu dari mereka sudah ada di depanku. Kupikir matanya melotot, tapi ternyata pandangannya tetap dingin. Aku tidak bisa berkata apa-apa, karena aku masih meringis menahan sakit. Lagi pula aku tidak setuju dengan kata-kata tawuran.
Aku merasa ada yang terasa perih di bagian lenganku. Ada darah mengalir di situ, mungkin terkena jeruji kawat waktu aku jatuh. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Perempuan-perempuan tadi sudah pergi. Kini masalahnya bagaimana aku bisa keluar dari tempat ini dalam keadaan senormal mungkin.
Belum sempat terpikir, tiba-tiba perempuan tadi mendatangiku dengan membawa kotak P3K. Dia tarik lenganku, membersihkan lukanya dengan kapas dan meneteskan cairan betadine. Aku sempat melihat wajahnya, pandangannya tetap serius sambil membelitkan perban. Alis matanya tebal dan rambutnya yang panjang menutup sebagian pipinya. Dia mulai mengangkat-angkat lenganku mengencangkan perban, sepertinya aku ini sepeda rusak. Kudengar teman-temannya sudah memanggilnya dari jauh.
“Kalau keluar lewat pintu belakang, habis kantin terus belok kiri, di depan masih banyak polisi,” katanya sambil memasukkan kembali peralatan P3K.
Aku melihat kantin di belakangku. Inilah yang aku harapkan, masalahku sudah teratasi sekarang. Dan dia sudah menghilang. Aku belum sempat mengucapkan terima kasih.
Semarang, Agustus 1996
Aku sudah berdiri dengan kuda-kuda terpasang. Kami sudah saling berhadapan. Di bawah terik matahari, di pelataran parkir Balai Kota, belasan anak berseragam SMA saling berhadap-hadapan. Tangan-tangan sudah terkepal, ada yang sedikit digerak-gerakkan. Hari ini adalah hari perhitungan anak-anak kelas 3 dengan anak-anak kelas 2.
Aku berdiri disini untuk solidaritas anak-anak kelas 3. Masalahnya sepele, kadang kalau dirunut juga tidak ketahuan juntrungannya. Tetapi bagiku ini lebih pada masalah perlawanan terhadap fenomena borjuisme di sekolahku. Santos adalah leader anak-anak kelas 2. Anak seorang pemilik perusahaan makanan terbesar di Jawa Tengah dan anggota DPRD. Santos dan kawan-kawannya bagiku adalah gambaran kaum borjuis. Setelah angkatanku, sekolah memberikan kesempatan untuk murid-murid yang masuk lewat jalan belakang sebagai sarana penggalangan dana untuk pembanguan gedung baru. Satu hal yang membuatku bersemangat adalah karena aku belum pernah terlibat baku hantam yang sesungguhnya. Di ekstrakurikuler Karate semua cuma latihan, di sini tempat ujian sebenarnya.
Sekejap situasi jadi kacau. Orang-orang sudah saling bertumbukan. Bunyi kepalan mendarat di kepala dan orang menahan erangan sudah bermunculan. Aku berada di tengah-tengah mereka. Belum ada yang memukulku. Kuda-kudaku masih kokoh di tanah. Kulirik sebelahku, temanku Wicak sedang memukuli anak kelas 2 yang sudah terkapar dan menutupi kepalanya. Tapi belum ada yang memukulku juga. Kepalanku semakin kueratkan berharap ada yang memukulku duluan. Tiba-tiba terdengar suara sirine, satu mobil polisi muncul dari gerbang Balai Kota. Dan baru kusadari orang-orang sudah lari berhamburan. Ada yang melompat pagar depan, ada yang lari ke belakang gedung Balai Kota.
Aku berlari sendirian setelah melompat pagar samping. Harusnya aku langsung kabur begitu dengar sirine walau belum sempat memukul siapapun. Dan memang betapa bodohnya aku, sekarang yang ada di depanku adalah sebuah gang buntu. Aku berbalik ke belakang, tak mungkin balik keluar gang ini karena suara sirine semakin dekat dan tidak hanya satu, mungkin dua atau tiga. Di sampingku tembok setinggi 2,5 m dengan kawat berduri di atasnya. Tidak ada jalan lain lagi, aku harus melewatinya. Entah ada kekuatan dari mana, sekali lompat aku sudah menggapai bagian atas tembok. Kadang dalam keadaan terdesak kekuatan ekstra selalu muncul. Aku sempat berpikir kalau hal ini tak akan bisa kulakukan dalam situasi normal. Sekarang tinggal melewati kawat berduri. Tapi sial, bagian tasku ada yang menyangkut di jeruji kawat. Aku kehilangan keseimbangan, jatuh ke balik pagar.
Pergelangan kakiku terasa sakit, walau sudah kusiapkan gaya yang pas untuk mendarat. Baru beberapa saat aku memegangi kakiku, terdengar suara-suara perempuan menjerit. Ya ampun, aku baru sadar kalau aku sekarang berada di halaman sekolah perawat. Ya, muridnya perempuan semua, memakai seragam putih-putih, dan mereka sekarang sedang memandangiku, seperti melihat alien mendarat di bumi.
“Dasar cowok, selalu merasa sok jagoan. Apa sih untungnya tawuran!” dengan suara lantang salah satu dari mereka sudah ada di depanku. Kupikir matanya melotot, tapi ternyata pandangannya tetap dingin. Aku tidak bisa berkata apa-apa, karena aku masih meringis menahan sakit. Lagi pula aku tidak setuju dengan kata-kata tawuran.
Aku merasa ada yang terasa perih di bagian lenganku. Ada darah mengalir di situ, mungkin terkena jeruji kawat waktu aku jatuh. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Perempuan-perempuan tadi sudah pergi. Kini masalahnya bagaimana aku bisa keluar dari tempat ini dalam keadaan senormal mungkin.
Belum sempat terpikir, tiba-tiba perempuan tadi mendatangiku dengan membawa kotak P3K. Dia tarik lenganku, membersihkan lukanya dengan kapas dan meneteskan cairan betadine. Aku sempat melihat wajahnya, pandangannya tetap serius sambil membelitkan perban. Alis matanya tebal dan rambutnya yang panjang menutup sebagian pipinya. Dia mulai mengangkat-angkat lenganku mengencangkan perban, sepertinya aku ini sepeda rusak. Kudengar teman-temannya sudah memanggilnya dari jauh.
“Kalau keluar lewat pintu belakang, habis kantin terus belok kiri, di depan masih banyak polisi,” katanya sambil memasukkan kembali peralatan P3K.
Aku melihat kantin di belakangku. Inilah yang aku harapkan, masalahku sudah teratasi sekarang. Dan dia sudah menghilang. Aku belum sempat mengucapkan terima kasih.




