<div style='background-color: none transparent;'></div>

Label 2

recent

World News

Entertainment

Semarang, Agustus 1996

Sabtu, 20 Juli 2013

Semarang, Agustus 1996

Aku sudah berdiri dengan kuda-kuda terpasang. Kami sudah saling berhadapan. Di bawah terik matahari, di pelataran parkir Balai Kota, belasan anak berseragam SMA saling berhadap-hadapan. Tangan-tangan sudah terkepal, ada yang sedikit digerak-gerakkan. Hari ini adalah hari perhitungan anak-anak kelas 3 dengan anak-anak kelas 2.
Aku berdiri disini untuk solidaritas anak-anak kelas 3. Masalahnya sepele, kadang kalau dirunut juga tidak ketahuan juntrungannya. Tetapi bagiku ini lebih pada masalah perlawanan terhadap fenomena borjuisme di sekolahku. Santos adalah leader anak-anak kelas 2. Anak seorang pemilik perusahaan makanan terbesar di Jawa Tengah dan anggota DPRD. Santos dan kawan-kawannya bagiku adalah gambaran kaum borjuis. Setelah angkatanku, sekolah memberikan kesempatan untuk murid-murid yang masuk lewat jalan belakang sebagai sarana penggalangan dana untuk pembanguan gedung baru. Satu hal yang membuatku bersemangat adalah karena aku belum pernah terlibat baku hantam yang sesungguhnya. Di ekstrakurikuler Karate semua cuma latihan, di sini tempat ujian sebenarnya.
Sekejap situasi jadi kacau. Orang-orang sudah saling bertumbukan. Bunyi kepalan mendarat di kepala dan orang menahan erangan sudah bermunculan. Aku berada di tengah-tengah mereka. Belum ada yang memukulku. Kuda-kudaku masih kokoh di tanah. Kulirik sebelahku, temanku Wicak sedang memukuli anak kelas 2 yang sudah terkapar dan menutupi kepalanya. Tapi belum ada yang memukulku juga. Kepalanku semakin kueratkan berharap ada yang memukulku duluan. Tiba-tiba terdengar suara sirine, satu mobil polisi muncul dari gerbang Balai Kota. Dan baru kusadari orang-orang sudah lari berhamburan. Ada yang melompat pagar depan, ada yang lari ke belakang gedung Balai Kota.
Aku berlari sendirian setelah melompat pagar samping. Harusnya aku langsung kabur begitu dengar sirine walau belum sempat memukul siapapun. Dan memang betapa bodohnya aku, sekarang yang ada di depanku adalah sebuah gang buntu. Aku berbalik ke belakang, tak mungkin balik keluar gang ini karena suara sirine semakin dekat dan tidak hanya satu, mungkin dua atau tiga. Di sampingku tembok setinggi 2,5 m dengan kawat berduri di atasnya. Tidak ada jalan lain lagi, aku harus melewatinya. Entah ada kekuatan dari mana, sekali lompat aku sudah menggapai bagian atas tembok. Kadang dalam keadaan terdesak kekuatan ekstra selalu muncul. Aku sempat berpikir kalau hal ini tak akan bisa kulakukan dalam situasi normal. Sekarang tinggal melewati kawat berduri. Tapi sial, bagian tasku ada yang menyangkut di jeruji kawat. Aku kehilangan keseimbangan, jatuh ke balik pagar.
Pergelangan kakiku terasa sakit, walau sudah kusiapkan gaya yang pas untuk mendarat. Baru beberapa saat aku memegangi kakiku, terdengar suara-suara perempuan menjerit. Ya ampun, aku baru sadar kalau aku sekarang berada di halaman sekolah perawat. Ya, muridnya perempuan semua, memakai seragam putih-putih, dan mereka sekarang sedang memandangiku, seperti melihat alien mendarat di bumi.
    “Dasar cowok, selalu merasa sok jagoan. Apa sih untungnya tawuran!” dengan suara lantang salah satu dari mereka sudah ada di depanku. Kupikir matanya melotot, tapi ternyata pandangannya tetap dingin. Aku tidak bisa berkata apa-apa, karena aku masih meringis menahan sakit. Lagi pula aku tidak setuju dengan kata-kata tawuran.
    Aku merasa ada yang terasa perih di bagian lenganku. Ada darah mengalir di situ, mungkin terkena jeruji kawat waktu aku jatuh. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Perempuan-perempuan tadi sudah pergi. Kini masalahnya bagaimana aku bisa keluar dari tempat ini dalam keadaan senormal mungkin.
    Belum sempat terpikir, tiba-tiba perempuan tadi mendatangiku dengan membawa kotak P3K. Dia tarik lenganku, membersihkan lukanya dengan kapas dan meneteskan cairan betadine. Aku sempat melihat wajahnya, pandangannya tetap serius sambil membelitkan perban. Alis matanya tebal dan rambutnya yang panjang menutup sebagian pipinya. Dia mulai mengangkat-angkat lenganku mengencangkan perban, sepertinya aku ini sepeda rusak. Kudengar teman-temannya sudah memanggilnya dari jauh.
    “Kalau keluar lewat pintu belakang, habis kantin terus belok kiri, di depan masih banyak polisi,” katanya sambil memasukkan kembali peralatan P3K.
Aku melihat kantin di belakangku. Inilah yang aku harapkan, masalahku sudah teratasi sekarang. Dan dia sudah menghilang. Aku belum sempat mengucapkan terima kasih.
Semarang, Agustus 1996

Aku sudah berdiri dengan kuda-kuda terpasang. Kami sudah saling berhadapan. Di bawah terik matahari, di pelataran parkir Balai Kota, belasan anak berseragam SMA saling berhadap-hadapan. Tangan-tangan sudah terkepal, ada yang sedikit digerak-gerakkan. Hari ini adalah hari perhitungan anak-anak kelas 3 dengan anak-anak kelas 2.
Aku berdiri disini untuk solidaritas anak-anak kelas 3. Masalahnya sepele, kadang kalau dirunut juga tidak ketahuan juntrungannya. Tetapi bagiku ini lebih pada masalah perlawanan terhadap fenomena borjuisme di sekolahku. Santos adalah leader anak-anak kelas 2. Anak seorang pemilik perusahaan makanan terbesar di Jawa Tengah dan anggota DPRD. Santos dan kawan-kawannya bagiku adalah gambaran kaum borjuis. Setelah angkatanku, sekolah memberikan kesempatan untuk murid-murid yang masuk lewat jalan belakang sebagai sarana penggalangan dana untuk pembanguan gedung baru. Satu hal yang membuatku bersemangat adalah karena aku belum pernah terlibat baku hantam yang sesungguhnya. Di ekstrakurikuler Karate semua cuma latihan, di sini tempat ujian sebenarnya.
Sekejap situasi jadi kacau. Orang-orang sudah saling bertumbukan. Bunyi kepalan mendarat di kepala dan orang menahan erangan sudah bermunculan. Aku berada di tengah-tengah mereka. Belum ada yang memukulku. Kuda-kudaku masih kokoh di tanah. Kulirik sebelahku, temanku Wicak sedang memukuli anak kelas 2 yang sudah terkapar dan menutupi kepalanya. Tapi belum ada yang memukulku juga. Kepalanku semakin kueratkan berharap ada yang memukulku duluan. Tiba-tiba terdengar suara sirine, satu mobil polisi muncul dari gerbang Balai Kota. Dan baru kusadari orang-orang sudah lari berhamburan. Ada yang melompat pagar depan, ada yang lari ke belakang gedung Balai Kota.
Aku berlari sendirian setelah melompat pagar samping. Harusnya aku langsung kabur begitu dengar sirine walau belum sempat memukul siapapun. Dan memang betapa bodohnya aku, sekarang yang ada di depanku adalah sebuah gang buntu. Aku berbalik ke belakang, tak mungkin balik keluar gang ini karena suara sirine semakin dekat dan tidak hanya satu, mungkin dua atau tiga. Di sampingku tembok setinggi 2,5 m dengan kawat berduri di atasnya. Tidak ada jalan lain lagi, aku harus melewatinya. Entah ada kekuatan dari mana, sekali lompat aku sudah menggapai bagian atas tembok. Kadang dalam keadaan terdesak kekuatan ekstra selalu muncul. Aku sempat berpikir kalau hal ini tak akan bisa kulakukan dalam situasi normal. Sekarang tinggal melewati kawat berduri. Tapi sial, bagian tasku ada yang menyangkut di jeruji kawat. Aku kehilangan keseimbangan, jatuh ke balik pagar.
Pergelangan kakiku terasa sakit, walau sudah kusiapkan gaya yang pas untuk mendarat. Baru beberapa saat aku memegangi kakiku, terdengar suara-suara perempuan menjerit. Ya ampun, aku baru sadar kalau aku sekarang berada di halaman sekolah perawat. Ya, muridnya perempuan semua, memakai seragam putih-putih, dan mereka sekarang sedang memandangiku, seperti melihat alien mendarat di bumi.
    “Dasar cowok, selalu merasa sok jagoan. Apa sih untungnya tawuran!” dengan suara lantang salah satu dari mereka sudah ada di depanku. Kupikir matanya melotot, tapi ternyata pandangannya tetap dingin. Aku tidak bisa berkata apa-apa, karena aku masih meringis menahan sakit. Lagi pula aku tidak setuju dengan kata-kata tawuran.
    Aku merasa ada yang terasa perih di bagian lenganku. Ada darah mengalir di situ, mungkin terkena jeruji kawat waktu aku jatuh. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Perempuan-perempuan tadi sudah pergi. Kini masalahnya bagaimana aku bisa keluar dari tempat ini dalam keadaan senormal mungkin.
    Belum sempat terpikir, tiba-tiba perempuan tadi mendatangiku dengan membawa kotak P3K. Dia tarik lenganku, membersihkan lukanya dengan kapas dan meneteskan cairan betadine. Aku sempat melihat wajahnya, pandangannya tetap serius sambil membelitkan perban. Alis matanya tebal dan rambutnya yang panjang menutup sebagian pipinya. Dia mulai mengangkat-angkat lenganku mengencangkan perban, sepertinya aku ini sepeda rusak. Kudengar teman-temannya sudah memanggilnya dari jauh.
    “Kalau keluar lewat pintu belakang, habis kantin terus belok kiri, di depan masih banyak polisi,” katanya sambil memasukkan kembali peralatan P3K.
Aku melihat kantin di belakangku. Inilah yang aku harapkan, masalahku sudah teratasi sekarang. Dan dia sudah menghilang. Aku belum sempat mengucapkan terima kasih.
Continue Reading | komentar

the HANDS 2

the HANDS 2
Radimas Satrio Wetan

Semarang, 17 Agustus 1996

Pukul 6:00 pagi, udara masih dingin. Aku sudah keluar rumah, berangkat sekolah lebih awal. Ada upacara 17 Agustus dan aku menjadi petugas pembawa bendera kali ini. Suasana kampungku masih sepi. Jalan-jalan sempit yang hanya bisa dilewati sepeda motor sudah sejak seminggu yang lalu dipenuhi bendera plastik merah putih. Inilah kampungku. Rumah-rumahnya tipikal rumah kampung yang sederhana, bagian rumahnya masih ada yang menggunakan kayu dan seng, dicat putih seadanya. Pagarnya kebanyakan dari bambu. Dan pagi ini bendera merah putih sudah berkibar di setiap depan rumah, walau hanya menggunakan tiang bambu dan diikat dengan tali seadanya.
Rumahku mungkin yang paling representatif dibanding yang lain. Bapakku seorang dosen Arsitektur, ibuku dosen Teknik Kimia. Tidak seperti dosen-dosen lain yang sering ngobyek di luar, mereka terlalu akademisi, pengabdian mereka hanya untuk ilmu pengetahuan. Mereka sama-sama mengambil S2 di ITB, dan di sana pulalah mereka bertemu. Jadi wajar jika hidup kami bisa dibilang sederhana. Apalagi kami 6 bersaudara dan aku anak paling bungsu.
Sampai di tikungan gang yang menuju jalan aspal, aku melewati Gento yang sedang mencuci sepeda motor di depan rumahnya. Setiap pagi dia memang rajin mencuci RX King pretelannya dengan hanya memakai celana pendek.
“To!” biasa, aku selalu menyapa duluan sambil melempar senyum.
“Tan! Tumben Pagi?”
“Ya, upacara,” kataku singkat tanpa memperlambat jalanku.
Sempat kulihat tatonya sudah bertambah. Terakhir hanya ada gambar naga di tangan kanannya. Kini ada tambahan gambar macan dan ada gambar perempuan telanjang di tangan kirinya. Gento seumuran denganku. Dia teman main kelereng waktu kecil. Yang aku tahu sekarang pekerjaannya penjaga keamanan di terminal.
Baru sampai di jalan aspal sebuah mobil hijet tiba-tiba berhenti di depanku. Tiga orang keluar dari mobil itu. Aku sempat menghindar agar tidak bertabrakan dengan mereka. Mereka orang kampungku. Dan yang di tengah itu Samin, tetangga depan rumahku, dibopong, baju dan celananya robek, basah terkena darah, ada beberapa luka di tubuhnya. Dia dimasukkan ke salah satu rumah tetangga. Orang-orang mulai berbondong masuk ke rumah itu. Kulihat Gento sudah ada di situ, ribut mengacung-acungkan jarinya sambil masih memegang sikat sepeda motornya. Bagiku ini pemandangabiasa. Kampungku adalah salah satu tempat komunitas gali terbesar di Semarang. Aku berjalan agak berjingkat untuk menghindari darah yang berceceran di jalan.
Aku sudah melangkah di jalan aspal. Sebuah Jalan di pinggir Kali Banjir Kanal. Konon pada jaman VOC kapal dagang bisa berlabuh sampai sungai ini. Aku berjalan menyusuri pinggir kali, 5 menit lagi menuju jalan protokol kemudian tinggal naik bis kota. Seorang anak berseragam SMP muncul dari salah satu gang dan berjalan di sebelahku. Rudi, adiknya Gento. Kadang kita memang sering jalan bersama ke jalan protokol.
“Upacara Rud?” tanyaku membuka pembicaraan.
“Ya mas, baca Undang Undang Dasar.”
“Ribut sama Lor Rel lagi ya?” aku menanyakan kejadian barusan.
“Biasa lah,” matanya tetap menatap lurus ke depan, enggan bicara masalah itu.
    Sebenarnya sudah peristiwa lama sekali pertikaian kampungku, Kidul Rel (Selatan Rel) dengan kampung Lor Rel (Utara Rel). Kebetulan dua komunitas gali ini dipisahkan dengan rel kereta api. Dan perang antar gali ini sudah memakan banyak korban sampai akhirnya ada peristiwa Petrus (penembak misterius) di tahun 1979. Tentu saja aku belum lahir waktu itu. Bapakku yang menceritakan semuanya. Sejak saat itu keadaan jadi reda. Sampai pada generasi sekarang ini, bibit-bibit pertikaian mulai muncul. Tetapi melihat Rudi di sebelahku, mungkin generasi berikutnya tidak seburuk yang aku bayangkan. Matanya  masih tetap lurus ke depan. Seperti aku menatap Kali Banjir Kanal yang telah menguning memantulkan sinar pagi.
the HANDS 2
Radimas Satrio Wetan

Semarang, 17 Agustus 1996

Pukul 6:00 pagi, udara masih dingin. Aku sudah keluar rumah, berangkat sekolah lebih awal. Ada upacara 17 Agustus dan aku menjadi petugas pembawa bendera kali ini. Suasana kampungku masih sepi. Jalan-jalan sempit yang hanya bisa dilewati sepeda motor sudah sejak seminggu yang lalu dipenuhi bendera plastik merah putih. Inilah kampungku. Rumah-rumahnya tipikal rumah kampung yang sederhana, bagian rumahnya masih ada yang menggunakan kayu dan seng, dicat putih seadanya. Pagarnya kebanyakan dari bambu. Dan pagi ini bendera merah putih sudah berkibar di setiap depan rumah, walau hanya menggunakan tiang bambu dan diikat dengan tali seadanya.
Rumahku mungkin yang paling representatif dibanding yang lain. Bapakku seorang dosen Arsitektur, ibuku dosen Teknik Kimia. Tidak seperti dosen-dosen lain yang sering ngobyek di luar, mereka terlalu akademisi, pengabdian mereka hanya untuk ilmu pengetahuan. Mereka sama-sama mengambil S2 di ITB, dan di sana pulalah mereka bertemu. Jadi wajar jika hidup kami bisa dibilang sederhana. Apalagi kami 6 bersaudara dan aku anak paling bungsu.
Sampai di tikungan gang yang menuju jalan aspal, aku melewati Gento yang sedang mencuci sepeda motor di depan rumahnya. Setiap pagi dia memang rajin mencuci RX King pretelannya dengan hanya memakai celana pendek.
“To!” biasa, aku selalu menyapa duluan sambil melempar senyum.
“Tan! Tumben Pagi?”
“Ya, upacara,” kataku singkat tanpa memperlambat jalanku.
Sempat kulihat tatonya sudah bertambah. Terakhir hanya ada gambar naga di tangan kanannya. Kini ada tambahan gambar macan dan ada gambar perempuan telanjang di tangan kirinya. Gento seumuran denganku. Dia teman main kelereng waktu kecil. Yang aku tahu sekarang pekerjaannya penjaga keamanan di terminal.
Baru sampai di jalan aspal sebuah mobil hijet tiba-tiba berhenti di depanku. Tiga orang keluar dari mobil itu. Aku sempat menghindar agar tidak bertabrakan dengan mereka. Mereka orang kampungku. Dan yang di tengah itu Samin, tetangga depan rumahku, dibopong, baju dan celananya robek, basah terkena darah, ada beberapa luka di tubuhnya. Dia dimasukkan ke salah satu rumah tetangga. Orang-orang mulai berbondong masuk ke rumah itu. Kulihat Gento sudah ada di situ, ribut mengacung-acungkan jarinya sambil masih memegang sikat sepeda motornya. Bagiku ini pemandangabiasa. Kampungku adalah salah satu tempat komunitas gali terbesar di Semarang. Aku berjalan agak berjingkat untuk menghindari darah yang berceceran di jalan.
Aku sudah melangkah di jalan aspal. Sebuah Jalan di pinggir Kali Banjir Kanal. Konon pada jaman VOC kapal dagang bisa berlabuh sampai sungai ini. Aku berjalan menyusuri pinggir kali, 5 menit lagi menuju jalan protokol kemudian tinggal naik bis kota. Seorang anak berseragam SMP muncul dari salah satu gang dan berjalan di sebelahku. Rudi, adiknya Gento. Kadang kita memang sering jalan bersama ke jalan protokol.
“Upacara Rud?” tanyaku membuka pembicaraan.
“Ya mas, baca Undang Undang Dasar.”
“Ribut sama Lor Rel lagi ya?” aku menanyakan kejadian barusan.
“Biasa lah,” matanya tetap menatap lurus ke depan, enggan bicara masalah itu.
    Sebenarnya sudah peristiwa lama sekali pertikaian kampungku, Kidul Rel (Selatan Rel) dengan kampung Lor Rel (Utara Rel). Kebetulan dua komunitas gali ini dipisahkan dengan rel kereta api. Dan perang antar gali ini sudah memakan banyak korban sampai akhirnya ada peristiwa Petrus (penembak misterius) di tahun 1979. Tentu saja aku belum lahir waktu itu. Bapakku yang menceritakan semuanya. Sejak saat itu keadaan jadi reda. Sampai pada generasi sekarang ini, bibit-bibit pertikaian mulai muncul. Tetapi melihat Rudi di sebelahku, mungkin generasi berikutnya tidak seburuk yang aku bayangkan. Matanya  masih tetap lurus ke depan. Seperti aku menatap Kali Banjir Kanal yang telah menguning memantulkan sinar pagi.
Continue Reading | komentar

Sumedang, Juli 1998

Sumedang, Juli 1998

Mayat-mayat itu bergelimpangan di depanku. Waktu seakan berhenti. Hanya ujung rerumputan yang bergerak-gerak terkena angin, menyembunyikan sebagian tubuh-tubuh yang sudah tak bergerak itu. Ada 5 atau 6 orang aku tak ingat. Yang kulihat jelas cuma yang ada di dekatku. Ya, itu Teh Minah. Suaminya sering menggodaku setelah aku jadi janda. Matanya melotot, jari-jarinya melepuh. Sama seperti yang lain. Tangannya gosong kehitaman. Mereka telah menamparku, meludahiku, memotong rambutku, merobek-robek bajuku. Aku tak ingat sudah berapa lama aku harus menutupi bagian dadaku.

Aku telah bunuh mereka semua. Seperti aku telah bunuh suamiku setahun yang lalu. Dia mulai sering mabuk, marah tak jelas dengan alasan cemburu. Sering dia tidak menganggapku, sepertinya aku ini seorang pembantu atau aku hanya sebongkah tubuh pemuas nafsu. Saat itu aku marah, marah sekali! Marahku sudah tak terbendung, walau selama ini selalu kusimpan, karena kebaikan keluarganya pada keluargaku yang mungkin tak bisa kubalas. Menanggung beaya perawatan bapak dan ibuku, juga menyekolahkan adik-adikku. Setelah lulus SMA aku harus menikah dan mengubur dalam-dalam semua impianku. Hingga sampai saat itu aku tak tahan lagi, dia mulai menampar dan memukul, tetapi aku lawan, untuk kesekian kalinya kutahan tangannya yang mengarah ke wajahku. Dalam kondisi mabuk dia mulai berontak dan kata-kata kasar keluar dari mulutnya. Aku semakin kuat menahan tangannya. Dan kata-kata itu aku sudah tak tahan lagi. Aku berusaha untuk menahan marahku. Tapi aku tak bisa. Sampai kulihat dia mulai mengejang, matanya melotot mau keluar. Seluruh tubuhnya mengejang, biji matanya sudah tak terlihat. Waktu kulepas, tubuhnya jatuh ke lantai seperti onggokan kayu. Tangannya hitam melepuh.
Aku hanya berdiri menatapnya, tak tahu apa yang terjadi. Seperti ketika aku berumur 5 tahun, Ibu bilang pembantuku mati terkena sengatan listrik. Waktu itu kutarik rambutnya karena aku tak mau makan makanan yang dia suapkan. Tiba-tiba dia mengejang kemudian terbujur kaku. Aku tahu ibu tidak akan menjelaskan apa yang terjadi meskipun dia melihat kejadiannya.
Aku baru tersadar ketika kakak iparku menggoyang-goyangkan pundakku. “Apa yang terjadi! Kamu apakan dia Joli?” Aku hanya bisa diam, masih memandang suamiku yang terbujur kaku. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Dan aku tidak merasa mengapa-apakan dia.

Matahari mulai tinggi, bayangan pohon di belakangku mulai menyempit. Aku masih duduk tersimpuh setengah telungkup, mencari-cari sisa bajuku, tapi yang kutemukan cuma ceceran potongan rambutku. Di sini, di bawah pohon ini, tempatku bermain waktu kecil. Tempat aku berlari-lari, menidurkan bonekaku. Hanya aku dan pohon ini. Tempat aku berkhayal menjadi seorang superstar. Tapi di sini pulalah aku diseret seperti anjing.

Pagi tadi aku diantar Pierre sampai depan rumahku. Dia akan jadi produserku. Orang keturunan Perancis. Sudah tiga hari aku berada di Jakarta untuk menyiapkan materi. Dan untuk kesekian kali Pierre mengantarku ke Sumedang dengan mobilnya. Terakhir kali kulihat dia terpontang-panting lari ketakutan ketika mobilnya mulai dirusak penduduk. Ya penduduk tempat ini, tetangga-tetanggaku sendiri.
Setelah suamiku meninggal, banyak laki-laki yang mendekatiku. Kang Jaja selalu nongkrong di depan rumahku. Pak Ndang, bekas kepala sekolahku sering memberiku baju, perhiasan dan dia pernah menawariku motor. Haji Sukarna pernah menawariku rumah mewah di alun-alun kalau aku mau jadi istri keduanya. Dan aku mulai banyak teman dari Jakarta. Mereka sering berlibur dan menginap di rumahku, nggak laki-laki nggak perempuan, kebanyakan laki-laki. Aku sering ke Jakarta sejak ikut kontes pencarian bintang.
Mungkin tempatku bukan di sini. Mereka mulai gerah dengan keberadaanku. Ibu-ibu yang suami-suaminya selalu melotot kalau aku lewat di depan mereka. Ada yang masih sopan, ada yang sudah kelewatan. Atau laki-laki yang merasa sakit hati karena merasa aku abaikan. Terakhir mereka bilang aku piaraan bule.
Hingga hari ini, di bawah pohon ini, mereka memperlakukan aku lebih rendah dari seorang pelacur. Mereka marah sekaligus takut. Takut kutukan akan menimpa tempat ini karenaku.

Akhirnya semuanya sudah tak terkendali lagi. Aku berontak dan orang-orang mulai memegangiku. Hingga kejadian itu terulang lagi. Seperti yang sudah-sudah, aku hanya bisa ternganga. Suasana jadi hening, walau bau daging terpanggang menusuk hidung.
Beberapa saat kemudian suasana lambat laun bertambah ricuh. Sempat terdengar suara kakak iparku. Ya aku hafal betul suaranya, “Dia juga yang bunuh adikku, aku melihatnya, dengan mata kepalaku sendiri, kalian sekarang percaya kan!” Kemudian banyak orang berteriak-teriak. Ada kata-kata tukang tenung dan wanita iblis diantara kata-kata pelacur dan wanita murahan. Aku tidak tahu berapa banyak orang yang mengerubutiku dan siapa saja mereka. Karena mataku sudah susah dibuka. Ada darah mengalir dari dahiku, menutupi mataku. Dan pandanganku menjadi merah. Ada orang yang sempat memukulkan sesuatu di kepalaku.
Aku teringat bapak ibuku. Mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa. Bapakku sakit kanker darah, ibuku menderita gagal ginjal dan adikku masih kecil-kecil. Kepalaku mulai pusing, kesadaranku mulai berkurang. Sampai aku sadar kalau badanku sudah basah dan bau bensin. Mereka akan membakarku hidup-hidup.
Di bukit ini, di bawah pohon ini aku tumbuh, dan di tempat ini pulalah tubuhku akan dihanguskan. Beginikah akhir dari hidupku? Gemetar tanganku sudah tak kurasakan lagi. Aku tak tahu apakah aku masih bisa menangis atau sudah tak sadarkan diri. Karena aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Kulihat cahaya-cahaya api mulai menyala di tangan orang-orang itu. Bayang-bayang mereka mulai mendekat. Tapi ada satu bayangan putih di antara mereka. Bergerak cepat seperti cahaya. Apakah malaikat telah siap menjemputku? Api mulai membesar di sekelilingku, tetapi tidak menyentuhku. Semakin membesar dan membesar hingga bayangan orang-orang yang mengelilingiku sudah tidak terlihat lagi. Pandanganku pun mulai memutih. Kesadaranku mulai menghilang. Apakah aku sudah mati?
Continue Reading | komentar

the HANDS 1



the HANDS 1

Joliana  Naritasari

Aku berlari menaiki tangga ke lantai dua. “Joli… hati-hati… jangan lari!” ibu berteriak dari bawah. Kulambatkan langkahku. Ibu dan bapak sedang membongkar-bongkar kardus. Sebuah rumah baru bagiku adalah sebuah pengalaman yang mendebarkan. Setelah lulus SD masuk SMP, semuanya akan menjadi serba baru. Aku sudah tak sabar menjalani semuanya. Juga tak sabar untuk masuk ke kamar baruku. Kutarik sebuah kursi ke depan jendela kamar yang sudah terbuka. Aku duduk di atasnya memandang keluar jendela. Kubuka buku kumpulan puisiku di lembar terakhir yang masih kosong. Lembar yang masih bersih memantulkan sinar yang jatuh di rajutan seratnya. Ujung penaku sudah menyentuh permukaan putihnya dan kata demi kata mengalir ke ujung jariku.

Wahai bukit di belakang rumahku
Ijinkan kusapa pohon di puncakmu
Biar kucumbu batangnya yang bercabang tiga
Dia yang bak anak kecil saat telah siang
Girang mengepak angin
Terbangkan awan bergumpal
Mengundang di tangannya burung seberang
Malam dia adalah ibu yang pilu
Terpekur pada bintang
Berbisik pada gelap semak
Tentang anaknya yang tercerabut
Seraya pintu terkuak bedah batangnya
Tumpahkan cahaya
Nyala putih yang tuntun anaknya
Kembali ke garba kasihnya
Biar esok
Anak itu bisa bersuka lagi
Bersama burung yang tak lagi terbang
Selama dia mau
Selama bumi menginginkannya

Untuk rumah baruku,
Joly, Februari 1990
Continue Reading | komentar

Jakarta, Februari 2002

Jakarta, Februari 2002


“Jadi Mas sekarang ada di mana?”
“Apa bedanya Rud. Manusia, malaikat, iblis… kita bisa jadi apa saja.”

Rudi, seorang penulis lepas, wartawan freelance, mahasiswa ilmu komunikasi dan jurnalistik - setelah tiga tahun, ini pertemuan kedua kali dengan orang yang dianggapnya panutan semasa dia masih berseragam sekolah.

“Di Semarang Mas jadi legenda.”
“Legenda? Maksudnya?”
“Ya… kabur dari penjara, kebal peluru, bisa menghilang… mereka tak tahu kejadian sebenarnya.”
“Kalaupun tahu, mereka tak kan percaya.”
“Tapi saya percaya.”
“Kenapa?”
“Ya… saya percaya sama Mas.”
“Kamu anak yang baik Rud… dari dulu aku melihat kamu seperti itu.”

Etan, orang yang diwawancarai Rudi, sosok yang sudah dianggap hilang dari pencarian – setelah hampir setahun mencari, akhirnya Rudi menemukannya di ceruk-ceruk Jakarta.

“Orang yang membawa Mas kabur dari penjara, seperti apa dia?”
“Dia wanita biasa. Aku sudah menganggapnya ibuku sendiri.”
“Dia punya ilmu?”
“Dia cuma segelintir wanita yang punya sedikit keistimewaan. Apapun yang terjadi, di mataku, dia seorang malaikat.”

Rudi mengeluarkan foto ukuran post card dari buku catatannya. Dia sodorkan ke lawan bicaranya. Sebuah foto hasil forensik. Seonggok mayat telentang di atas alas logam. Badannya penuh tato. Bagian kepalanya hanya tinggal serpihan-serpihan daging. Hanya reaksi dingin tersirat di wajah Etan melihat gambar itu.
“Maafkan aku Rud. Aku telah bunuh kakakmu.”
“Dia pantas mati seperti itu Mas.”
“Semua terjadi di luar dugaanku.”
“Bagaimana Mas melakukannya?”
     “Aku tak tahu Rud… keluar begitu saja, terutama saat kita emosi. Aku sedang belajar mengontrolnya.”
“Apakah mereka semua punya kekuatan seperti Mas?”
“Ya…”
“Seperti apa mereka?”
Etan merogoh dompetnya. Mengambil lembaran yang terlipat di antara isinya. Disodorkannya ke Rudi. Selembar foto yang lipatan di tengahnya sudah berserabut. Gambar empat orang sebatas dada, dua orang di sebelah kiri lipatan, dua orang lagi di sebelah kanan. Empat orang itu tersenyum menatap lensa, seseorang di tengah memakai baju wisuda. Paling kiri, orang yang dikenal Rudi, yang kini ada di depannya. Tapi di foto itu dia seperti melihat sosok yang berbeda dari yang bisa dia bayangkan. Di sebelahnya seorang perempuan memakai baju wisuda. Topi toganya tidak dipakai. Rambutnya lurus sepundak dibiarkan tergerai, tidak digelung seperti biasanya wanita diwisuda, tersenyum lepas memperlihatkan deretan gigi depannya. Bola matanya berbinar cerah seperti zamrud yang berkilau di bawah alisnya yang bergaris tajam. Persis di sebelah kanan lipatan, perempuan berambut lurus sampai ke punggung. Sebagian jatuh ke depan, beberapa menutup garis pipinya. Senyumnya lebar tersimpul. Rona wajahnya lembut, selembut sorot matanya. Di pinggir paling kanan, laki-laki berambut ikal, belakangnya hampir sepundak. Sisirannya basah ke belakang. Kumisnya tipis rata di atas bibirnya. Jampangnya pendek hanya di bagian dagu. Tersenyum lebar tapi pandangannya tetap datar.

Tombol tape recorder berbunyi di atas meja. Kaset di dalamnya berhenti berputar. Rudi membalik kaset tape recordernya, menyalakan tombol recordnya lalu mengamati lagi foto yang ada di tangannya.
“Mereka kelihatan seumuran Mas.”
“Umur kami sama. Bahkan sama persis. Kami dilahirkan di hari dan jam yang sama. Mungkin di menit yang sama.”
“Bagaimana perasaan kalian setelah tahu kalian berbeda?”
“Perasaan kami… nggak tahu ya Rud. Semua orang juga berbeda.”
“Siapa nama mereka?”

Etan mengambil foto di tangan Rudi. Melipatnya, memasukkan ke dompetnya lagi. Tampaknya tidak akan banyak informasi yang didapatkan Rudi.

“Kekuatan mereka juga ada di tangan?”
“Ya, ada yang sejak kecil sudah keluar sedikit-sedikit. Biasanya tangan mereka sering terasa pegal, kadang tremor. Ada juga yang tiba-tiba muncul begitu saja. Seperti aku. Dan itu yang berbahaya. Kamu tahu sendiri akibatnya.”
“Suatu saat saya akan menulis tentang kalian.”
“Bagus itu Rud. Tidak banyak orang dari lingkungan kita dapat melakukan sesuatu seperti kamu.”
“Adakah istilah untuk menyebut orang-orang seperti kalian?... atau… kalian menamakan diri kalian apa?”
“Apa ya?... Aku nggak tahu Rud.”
“Bagaimana kalau the Hands?... Etan the Hands… bagus kan? Kaya Billy the Kids.”
“Ada-ada saja kamu Rud.”

Langit sudah tercoreng merah. Gelap mulai merambati ceruk-ceruk di antara gedung-gedung tinggi. Di salah satu ceruk yang becek dan bertaburan sampah, sebuah warung makan reot sudah mulai menyala sinar kuningnya. Rudi dan Etan keluar dari warung itu. Mereka saling melambaikan tangan, untuk entah kapan bertemu lagi. Masing-masing sudah tenggelam di hiruk bisingnya mesin-mesin jalan, di suatu tempat yang tak akan pernah tidur.
Continue Reading | komentar
 
Copyright © 2011. yahohoo . All Rights Reserved
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Template Modify by Creating Website. Inpire by Darkmatter Rockettheme Proudly powered by Blogger